Telur Rebus Vs Telur Dadar Mana yang Lebih Baik untuk Anak Kata Pakar

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 00:02:01 WIB
Ilustrasi - Telur rebus vs telur goreng. (Foto: NET)

JAKARTA - Cara memasak telur dapat membuat sajian di atas piring menjadi berbeda. Lantas, antara telur rebus dan telur dadar, mana yang lebih baik untuk anak?

Menurut Ahli Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Toto Sudargo, lebih menyarankan telur diolah dengan cara didadar, ceplok, maupun orak-arik, dibandingkan direbus.

Bukan semata karena kandungan gizinya, tetapi karena cara tersebut membuat bagian putih dan kuning telur lebih mudah dikonsumsi secara bersamaan oleh anak-anak.

"Terkadang anak cuma suka putihnya, tapi enggak suka kuningnya karena seret. Terkadang anak suka kuningnya yang gurih, tapi enggak suka putihnya," kata Toto, Jumat (14/8/2026).

"Tetapi kalau diora-arik atau diceplok, terutama didadar, putih dan kuningnya tercampur menjadi satu dan bisa dikonsumsi oleh anak-anak," tambah dia.

Harap diingat bahwa telur yang dimasak dengan minyak tentu membawa tambahan kalori. Toto menyebut, satu butir telur yang didadar, ceplok, atau orak-arik dapat menyerap sekitar 10 gram minyak sehingga ada tambahan energi dari minyak yang digunakan dalam proses memasak.

Meski begitu, menurutnya, tambahan kalori tersebut tidak perlu menjadi kekhawatiran, terutama jika telur menjadi salah satu makanan yang paling disukai anak.

Hal yang penting diperhatikan adalah porsi dan keseluruhan pola makan anak, termasuk makanan yang dikonsumsi dalam sehari.

Terlepas dari cara pengolahannya, kandungan protein telur tetap menjadi salah satu keunggulannya. Menurut Toto, satu butir telur berukuran sekitar 60 gram mengandung sekitar 6,3 gram protein.

Jumlah tersebut membuat telur dapat menjadi salah satu sumber protein hewani yang cukup berarti dalam menu harian anak.

Lebih lanjut, Toto menyarankan para orangtua perlu memperkenalkan jenis makanan kepada anak sejak usia dini. Bagi anak balita yang terpenting pada tahap awal bukanlah seberapa banyak makanan yang dihabiskan, melainkan seberapa beragam makanan yang dikenalkan.

"Tolong para ibu muda kenalkan kepada anak-anak balita semua jenis makanan. Bukan volumenya, tetapi jenis makanannya biar mengenal dulu, oh ini bau bayam, ini bau telur, ini bau ikan," saran Toto.

Porsi yang diberikan pun tidak harus banyak. Untuk anak di bawah lima tahun, misalnya, orangtua dapat mengenalkan makanan dalam jumlah kecil.

Dua sendok makan sudah cukup untuk tahap pengenalan. Dari sana, anak perlahan belajar mengenali rasa, aroma, tekstur, dan jenis makanan yang berbeda.

Kebiasaan mengenalkan beragam makanan sejak dini menjadi penting agar anak tidak terbiasa hanya dengan jenis makanan tertentu.

Toto menilai, salah satu persoalan yang kerap terjadi adalah orangtua memilih cara paling praktis karena kesibukan sehingga pilihan makanan anak menjadi terbatas.

Anak-anak, menurutnya, perlu berkenalan lebih dulu dengan beragam pangan, sebelum bertahap belajar menikmati dan mengonsumsinya dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan.

Terkini