Pengguna Google Kini Bisa Hapus Tanda Air Konten Gambar dan Video AI

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 22:32:01 WIB
Ilustrasi - Logo Google di Kantor Google, Jakarta Selatan [FOTO: NET].

JAKARTA - Pengguna layanan kecerdasan artifisial (AI) buatan Google ke depannya bakal diberikan kemudahan untuk melenyapkan watermark atau tanda air visual yang tampak pada konten gambar maupun video, seperti yang diungkapkan oleh Wakil Direktur Google Josh Woodward lewat sebuah unggahan di platform media sosial miliknya.

Fasilitas opsi untuk memasang sekaligus menghapus tanda air tersebut dipastikan bakal segera tersedia bagi jajaran model AI Nano Banana, Omni, serta Lyria. Pada ketiga model kecerdasan artifisial tersebut, setiap hasil konten biasanya senantiasa ditandai oleh pihak Google dengan menyematkan ikon kilauan yang sudah tidak asing guna menandakan bahwa karya tersebut merupakan hasil ciptaan AI, berdasarkan laporan dari laman Engadget pada hari Jumat (14/8).

Lebih lanjut, fitur canggih ini juga dipersiapkan untuk segera meluncur di platform Gemini serta aplikasi penyunting video besutan Google yang diberi nama Flow.

Selama beberapa waktu belakangan ini, berbagai perusahaan teknologi raksasa memang gencar menyematkan tanda air ataupun keterangan khusus apabila suatu konten dihasilkan menggunakan teknologi AI, dengan tujuan agar karya tersebut dapat dibedakan secara jelas dari konten murni buatan tangan manusia. 

Pihak Google sendiri menegaskan bahwa konten video maupun foto yang diproduksi oleh model AI mereka akan tetap dibekali tanda air, tetapi dalam format yang bersifat tersembunyi (invisible).

Tanda tersembunyi yang dimaksudkan adalah teknologi SynthID serta standar metadata C2PA. Kedua jenis penanda digital ini umumnya cukup sulit diidentifikasi secara langsung oleh pengguna biasa atau masyarakat awam, di mana mereka harus melakukan proses pengecakan secara mendalam terlebih dahulu guna mendeteksi keberadaan kedua elemen tersebut.

Woodward mengemukakan bahwa fitur opsi untuk menonaktifkan tanda air tampak pada konten AI buatan Google ini dirilis secara luas di hampir seluruh negara, dengan pengecualian bagi "di negara-negara yang diwajibkan oleh hukum untuk mempertahankannya".

Konsekuensinya, fitur tersebut dipastikan tidak akan bisa dinikmati di wilayah Uni Eropa, mengingat kawasan tersebut belum lama ini resmi memberlakukan regulasi ketat perihal transparansi kecerdasan artifisial yang mewajibkan agar tanda air harus tetap terlihat dengan jelas pada setiap konten AI yang berwujud "tampak autentik". Tidak hanya berhenti sampai di situ, negara Korea Selatan pun tercatat telah menerapkan langkah kebijakan serupa pada awal tahun 2026 ini.

Keberadaan tanda air visual yang melekat terkadang kerap menjadi batu sandungan bagi para kreator yang memanfaatkan teknologi AI guna menunjang kelancaran proses pekerjaan kreatif mereka.

"Kami tengah menyeimbangkan antara kendali kreatif dan keamanan," kata Woodward.

Isu terkait sistem penandaan untuk konten kecerdasan artifisial saat ini tengah menjelma menjadi salah satu topik sorotan utama bagi berbagai pihak di kancah global. Di samping langkah yang diambil oleh Google, perusahaan Suno baru-baru ini juga meluncurkan layanan pembuatan musik berbasis AI sekaligus mengumumkan penerapan sistem pelabelan guna memastikan bahwa karya yang dihasilkan terbukti dibuat oleh mesin AI.

Sistem pelabelan tersebut sekaligus berfungsi untuk menjamin agar konten kreasi AI itu turut dapat dikenali secara mudah oleh berbagai platform audio digital lainnya.

Di samping itu, perusahaan pengembang kecerdasan artifisial Anthropic turut mengumumkan bahwa mereka telah resmi menyematkan penanda konten AI tak terlihat yang berbasis standar C2PA pada setiap produk teks maupun berkas dokumen yang dihasilkan oleh asisten virtual Claude.

Terkini