Kebijakan Pembatasan Pertalite Dorong Transisi Ke Kendaraan Listrik Tanah Air

Jumat, 14 Agustus 2026 | 00:54:32 WIB
Pimpinan Tertinggi Perkumpulan Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) Budi Setiyadi. (Foto: NET)

JAKARTA - Pimpinan Tertinggi Perkumpulan Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) Budi Setiyadi mengungkapkan keputusan otoritas untuk mengatur ulang pendistribusian Pertalite merupakan waktu yang pas guna mempercepat migrasi warga menuju moda transportasi yang lebih hemat serta rendah polusi.

Berdasarkan pandangannya, pihak pemerintah dan sektor usaha mempunyai kesempatan memicu pergeseran perilaku pemakaian energi melalui moda listrik, sehingga regulasi ini tidak sekadar dilihat sebagai langkah memperbaiki pemberian bantuan dana semata.

“Penataan subsidi menjadi momentum yang tepat untuk memperluas pilihan masyarakat. Kalau masyarakat memiliki kendaraan yang lebih efisien untuk kebutuhan sehari-hari, ketergantungan terhadap BBM juga dapat berkurang,” kata Budi melalui pernyataannya yang didapatkan serta dikonfirmasi di Jakarta pada Jumat (14/8/2026).

Baca juga: Prabowo dorong produksi motor listrik nasional hingga 2 juta unit Baca juga: Danantara sebut Himbara siap beri dukungan pendanaan untuk Molinas

Potensi tersebut, tergolong sangat besar mengingat total unit sepeda motor di Indonesia menyentuh angka sekitar 139,45 juta unit merujuk pada informasi BPS 2025. Dengan jumlah yang sangat besar, elektrifikasi moda transportasi roda dua dianggap mampu menghasilkan pengaruh terhadap pemakaian bahan bakar minyak beserta polusi udara.

Kementerian ESDM, pada 2022, mengestimasikan pemanfaatan 900 ribu sepeda motor listrik sanggup memangkas pemakaian BBM sekitar 320 juta liter setiap tahun dan menekan dana kompensasi Pertalite sekitar Rp480 miliar. 

Di sudut lain, pemakai pun punya peluang menghemat pengeluaran BBM sekitar Rp2,68 juta setiap tahun. Meskipun demikian, percepatan elektrifikasi tidak cukup cuma menggantungkan diri pada perubahan aturan BBM.

AISMOLI berpendapat ketersediaan barang yang terjamin keamanannya serta bermutu, biaya yang bersaing, suku cadang, bantuan layanan pascapenjualan, sarana pengisian maupun penukaran baterai, serta jaminan bagi konsumen merupakan aspek fundamental. 

Peningkatan sektor industri dalam negeri pun harus berlangsung selaras, lewat penguatan penggunaan material lokal serta pengembangan pihak penyuplai lokal.

Dengan demikian, peralihan menuju sepeda motor listrik bukanlah sekadar transformasi teknologi alat angkut, melainkan elemen dari langkah menciptakan mobilitas yang lebih efektif sekaligus menekan kebergantungan negara terhadap BBM.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah mengesahkan motor listrik nasional (MOLINAS) rakitan dalam negeri beserta ekosistem pendukungnya di tempat pembuatan milik PT Ilectra Motor Group (ALVA), Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8).

Terkini