Survei yang menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error ±2,78 persen ini memotret dua wajah yang kontras: optimisme publik terhadap kepemimpinan politik yang tinggi, berbanding terbalik dengan tekanan ekonomi rumah tangga yang dirasakan masyarakat.
Kepuasan Publik terhadap Prabowo-Gibran
Kepuasan tertinggi tercatat di bidang politik. Sebanyak 86,2 persen responden mengaku puas dan sangat puas terhadap kinerja Prabowo-Gibran, disusul bidang pendidikan dan bantuan sosial yang mendapat angka kepuasan 84,3 persen. Adapun di bidang hukum, tingkat kepuasan mencapai 82,7 persen.
Menariknya, responden tidak hanya menilai program, tetapi juga karakter pemimpinnya. Sosok Prabowo dinilai sebagai enlightening leader—pemimpin yang memiliki kesadaran tinggi, memberi teladan, dan memandang kepemimpinan sebagai amanah pengabdian, bukan sekadar perebutan kekuasaan.
Kepercayaan itu ikut tercermin dalam simulasi elektabilitas. Jika pilpres digelar hari ini, Prabowo masih menjadi pilihan utama dengan 70,2 persen suara, jauh meninggalkan Dedy Mulyadi (8,5 persen), Anies Baswedan (6,9 persen), dan Gibran Rakabuming Raka (6,4 persen).
Tekanan Ekonomi: Omzet Lesu dan Tabungan Menipis
Di balik angka kepuasan politik yang tinggi, persepsi ekonomi publik justru menunjukkan alarm. Hampir 54 persen responden menilai kondisi ekonomi saat ini buruk. Faktor utamanya? Sebanyak 57,5 persen menyebut ketidakpastian global sebagai biang kerok, sementara 20,8 persen mengaku pendapatan mereka turun dan 20,3 persen lainnya terdampak kenaikan harga.
Departemen Head Litbang FSP BUMN Bersatu, Tri Widodo Sektianto, mengatakan tren ini terlihat jelas jika dibandingkan dengan survei Januari 2026. "Sebanyak 34,2 persen responden mengaku penghasilan mereka turun dan lebih dari 36,1 persen masyarakat yang menjalankan usaha mengeluhkan omzet usaha mereka yang lesu," ujarnya.
Kondisi rumah tangga pun tak kalah mencekam. Hampir separuh responden (48,3 persen) menyatakan kondisi ekonomi keluarganya tidak menentu. Lebih mengkhawatirkan lagi, hanya 30,1 persen yang memiliki tabungan sebagai jaring pengaman finansial. Sisanya? Sebanyak 14,3 persen mengaku kondisi keuangan keluarganya sudah bergejolak dan 5,2 persen menyebut berada di ambang kritis.
Kerentanan Finansial: 63,8 Persen Masyarakat Rentan
Pengukuran tingkat kerentanan ekonomi menunjukkan 63,8 persen responden berada dalam posisi sangat rentan—tanpa dana darurat yang memadai untuk menghadapi guncangan ekonomi. Angka ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah: bagaimana menjaga momentum kepuasan politik tetap sejalan dengan perbaikan daya beli riil masyarakat.
Survei ini setidaknya memberi sinyal bahwa dukungan publik terhadap kepemimpinan nasional masih solid, namun stabilitas ekonomi domestik menjadi ujian berikutnya yang tak bisa ditunda. Ketahanan fiskal rumah tangga yang tipis bisa menjadi bumerang jika tekanan global berlanjut dan daya beli terus tergerus.