Menteri Ekraf Sebut Produksi Film Internasional Bawa Dampak Positif

Senin, 10 Agustus 2026 | 00:18:01 WIB
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya. (Foto: NET)

JAKARTA - Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menganggap proses pembuatan sinema global yang diselenggarakan di Nusantara mampu mendatangkan efek ganda yang baik bagi kegiatan ekonomi negara, bersamaan dengan membuka kesempatan kenaikan penanaman modal pada bidang perfilman.

Berdasarkan pandangannya, pembuatan film tidak sekadar sanggup membuka peluang lewat penyerapan pekerja setempat, melainkan pula dengan menggerakkan bidang perinapan, makanan, angkutan, perbekalan, usaha mikro kecil menengah sampai pariwisata.

"Kami ingin culture Indonesia, alam Indonesia, tim production dan talent-talent Indonesia juga bisa semakin berkolaborasi, karena dalam kolaborasi tidak hanya mempromosikan Indonesia tetapi juga ada transfer knowledge, ada transfer teknologi, dan banyak hal untuk mendukung industri film Indonesia sebagai diplomasi kami ke dunia Internasional," katanya dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Senin (10/8/2026).

Hal tersebut diutarakan ketika memantau kegiatan pengambilan gambar sinema global "Happy Eyes" di Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor, Jumat (7/8/2026).

Sinema tersebut merupakan kerja sama pembuatan antara Moana Films asal Prancis dan studio Nusantara Jungle Run Productions.

Kementerian Ekraf memandang akibat pembuatan film tidak berhenti pada sektor perfilman. Selama masa pembuatan, permintaan terhadap tempat tinggal, pangan dan minuman, angkutan, perbekalan, hingga beragam layanan penunjang turut memicu kegiatan ekonomi pada kawasan tempat pengambilan gambar.

Di samping pengaruh seketika sewaktu pembuatan, sinema global pun berdaya guna mendatangkan keuntungan panjang lewat pengenalan tujuan Nusantara.

Tempat yang muncul dalam sinema sanggup menjadi daya pikat baru bagi pelancong sesudah sinema tersebut disiarkan.

Teuku menyatakan pemerintah pun senantiasa memacu kemudahan bagi pembuatan sinema global, mencakup lewat penyelarasan izin, visa, serta keluar-masuk perlengkapan pembuatan.

"Dalam memberikan dukungan film produksi internasional seperti ini kami terus berkolaborasi sehingga dapat mempermudah, apakah itu kaitannya dengan visa, perizinan, kemudian juga untuk masuknya perlengkapan peralatan hingga dikeluarkannya kembali,” ujarnya.

Menurut pandangannya, kemudahan tersebut dibutuhkan guna menaikkan daya pikat Nusantara sebagai kawasan pembuatan sekaligus memacu penanaman modal luar negeri pada bidang perfilman.

Sinema "Happy Eyes" menjalani masa pembuatan selama kurang lebih 40 hari di Nusantara dengan kawasan pengambilan gambar utama di Taman Safari Bogor dan Tanjung Lesung, Banten.

Pembuatan tersebut melibatkan sekitar 40 kru luar negeri dan 180 kru Nusantara.

Executive Producer "Happy Eyes" Joe Yaggi menyatakan sekitar 70 persen dari keseluruhan lebih dari 200 kru yang ambil bagian pada pembuatan berasal dari Nusantara.

Berdasarkan keterangannya, keikutsertaan pekerja setempat menjadi momentum guna menaikkan kecakapan tenaga kreatif Nusantara agar sanggup bekerja dalam patokan pembuatan global.

"Kru dari Prancis sangat senang bekerja dengan kru kami. Mereka sangat impress dengan kru kami. Jadi, kami ada kesempatan di sini. Saya harap film yang seperti ini lebih banyak karena kru kami bisa kerja di tingkat internasional," kata Joe.

Dengan kekayaan alam, budaya, keanekaragaman hayati, serta talenta setempat yang ada, pemerintah menaruh harapan kian banyak pembuatan sinema global menetapkan Nusantara.

Kehadiran pembuatan tersebut disematkan harapan bukan cuma memperkokoh bidang film negara, melainkan pula meluaskan faedah ekonomi ke beragam bidang dan kawasan.

Terkini