Ekonomi Jatim Tumbuh, Kemiskinan Turun ke 9,06%

Kamis, 06 Agustus 2026 | 21:53:02 WIB
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa [FOTO: NET].

JAKARTA - Ekonomi Jawa Timur pada Semester I/2026 tumbuh sebesar 5,84%, melampaui rata-rata nasional yang mencapai 5,45%. Pada periode yang sama, persentase penduduk miskin turun menjadi 9,06%, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurun menjadi 3,42%, lebih rendah dibandingkan angka nasional sebesar 4,65%.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan capaian tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur tidak hanya tinggi secara statistik, tetapi juga semakin berkualitas karena memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Alhamdulillah, di tengah ketidakpastian dan dinamika global, Jawa Timur mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi tertinggi se-Pulau Jawa dan melampaui capaian nasional. Pada saat yang sama, jumlah penduduk miskin dan pengangguran juga menurun. Ini merupakan hasil kerja keras, sinergi, dan kolaborasi seluruh elemen di Jawa Timur,” ujarnya dikutip, Kamis (6/8/2026).

Khofifah menyebut capaian tersebut merupakan hasil sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dunia industri, perguruan tinggi, akademisi, serta seluruh elemen masyarakat yang terus menjaga stabilitas sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi di Jawa Timur.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi Jawa Timur pada triwulan II/2026 tumbuh 5,84% secara kumulatif (cumulative to cumulative/c-to-c), tertinggi di Pulau Jawa dan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurutnya, pertumbuhan tersebut ditopang sektor-sektor produktif yang menjadi tulang punggung perekonomian Jawa Timur, yakni industri pengolahan dengan kontribusi 31,27%, perdagangan 18,49%, serta pertanian sebesar 10,87%.

Dengan struktur tersebut, Jawa Timur tetap menjadi kontributor terbesar kedua terhadap perekonomian Pulau Jawa dengan kontribusi 25,40%, sekaligus penyumbang terbesar kedua terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 14,34%.

“Capaian ini menjadi bukti bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur konsisten melakukan akselerasi aktivitas ekonomi masyarakat. Fondasi ekonomi kami ditopang oleh sektor-sektor produktif yang kuat, mulai dari industri, perdagangan, hingga pertanian,” kata Khofifah.

Lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi pada Semester I/2026 berasal dari sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 10,76%. Pertumbuhan tersebut didorong meningkatnya okupansi hotel dan penginapan selama musim liburan, naiknya aktivitas pariwisata, serta menguatnya kinerja jasa boga, termasuk melalui perluasan penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi berasal dari konsumsi pemerintah yang meningkat 19,80%, didorong realisasi pembayaran gaji ke-13 ASN, peningkatan belanja barang dan jasa, serta pelaksanaan berbagai program pelayanan publik.

Khofifah menegaskan keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari tingginya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan pertumbuhan tersebut dalam menurunkan kemiskinan.

Pada Maret 2026, persentase penduduk miskin Jawa Timur turun menjadi 9,06% dari 9,30% pada September 2025 atau berkurang 0,24%. Penurunan tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian nasional yang turun sebesar 0,18%.

Secara absolut, jumlah penduduk miskin berkurang sebanyak 92.060 jiwa, dari 3.804.290 jiwa menjadi 3.712.230 jiwa. Capaian tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan kontribusi penurunan jumlah penduduk miskin terbesar kedua secara nasional.

“Capaian ini menunjukkan bahwa berbagai ikhtiar penanggulangan kemiskinan yang dilakukan secara kolaboratif mulai memberikan hasil nyata. Yang terpenting bukan hanya semakin sedikit masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan, tetapi kualitas hidup masyarakat miskin juga terus membaik,” katanya.

Perbaikan kualitas tersebut tercermin dari turunnya Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dari 1,286 menjadi 1,214 dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) dari 0,262 menjadi 0,239.

Khofifah menilai kondisi tersebut menunjukkan rata-rata kesenjangan pengeluaran masyarakat miskin terhadap garis kemiskinan semakin kecil, sekaligus menggambarkan ketimpangan di antara kelompok masyarakat miskin juga terus menurun.

Penurunan kemiskinan juga terjadi secara merata. Di wilayah perkotaan, angka kemiskinan turun dari 6,93% menjadi 6,66%, sedangkan di perdesaan turun dari 12,55% menjadi 12,38%.

“Artinya, bukan hanya jumlah penduduk miskin yang menurun, tetapi kondisi kemiskinannya juga tidak semakin dalam dan tidak semakin parah. Ini menunjukkan bahwa intervensi penanggulangan kemiskinan semakin efektif, inklusif, dan tepat sasaran,” jelasnya.

Selain angka kemiskinan, Jawa Timur juga mencatat perbaikan di sektor ketenagakerjaan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 3,42% pada Mei 2026 dari sebelumnya 3,55% pada Februari 2026. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional sebesar 4,65%.

Jumlah pengangguran berkurang sekitar 26.730 orang menjadi 866,32 ribu orang. Sementara itu, jumlah penduduk bekerja meningkat menjadi 24,46 juta orang atau bertambah 205,53 ribu orang. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertambahan angkatan kerja yang naik 179,21 ribu orang.

“Penurunan tingkat pengangguran menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Jawa Timur terus tumbuh dan mampu menciptakan kesempatan kerja yang lebih luas. Yang menggembirakan, pertambahan penduduk bekerja lebih besar dibandingkan pertambahan angkatan kerja sehingga semakin banyak masyarakat yang terserap ke dalam dunia kerja,” ungkapnya.

Optimisme tersebut juga tercermin dari meningkatnya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) menjadi 75,14% atau naik 0,36% dibandingkan Februari 2026.

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan 7,77 juta pekerja atau 31,77% dari total penduduk bekerja. Selanjutnya diikuti sektor perdagangan sebesar 18,63% dan industri pengolahan sebesar 14,64%.

Kualitas pekerjaan juga terus membaik. Proporsi pekerja formal meningkat menjadi 36,18%, sementara tingkat setengah pengangguran dan pekerja paruh waktu masing-masing mengalami penurunan.

Meski demikian, Khofifah menegaskan masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu menjadi perhatian, terutama tingginya tingkat pengangguran lulusan SMK dan pendidikan tinggi.

Pemprov Jawa Timur, lanjutnya, akan terus memperkuat keterkaitan antara pendidikan, pelatihan vokasi, dan kebutuhan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja (DUDIKA) melalui peningkatan kompetensi, sertifikasi, program magang, serta penguatan kemitraan dengan sektor industri.

Di sisi lain, strategi percepatan penurunan kemiskinan akan terus diperkuat melalui pemanfaatan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai dasar penyusunan sasaran program agar setiap intervensi pemerintah semakin presisi, tepat sasaran, dan berdampak nyata.

“Kami tidak boleh cepat berpuas diri. Tantangan ke depan masih sangat dinamis. Karena itu, kami harus terus memperkuat sinergi, menjaga kondusivitas, meningkatkan produktivitas, memperluas kesempatan kerja, serta memastikan pertumbuhan ekonomi memberikan manfaat yang semakin adil dan merata,” tegasnya.

Khofifah juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, pemerintah kabupaten/kota, dunia usaha, dunia industri, perguruan tinggi, akademisi, media, serta seluruh elemen masyarakat yang terus menjaga kondusivitas dan mendukung pembangunan Jawa Timur.

“Terima kasih kepada seluruh pihak yang terus bersinergi dan berkolaborasi menjaga Jawa Timur tetap kondusif. Dengan kebijakan yang semakin berbasis data dan kolaborasi yang kuat, kami optimistis pertumbuhan ekonomi akan terus terjaga, kemiskinan dan pengangguran semakin menurun, serta kesejahteraan masyarakat Jawa Timur semakin meningkat,” ucapnya.

Terkini