Pupuk Indonesia Siap Penuhi Rencana Tambahan Impor Urea Thailand

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:59:32 WIB
PT Pupuk Indonesia (Persero) [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Pupuk Indonesia (Persero) memberikan jaminan bahwa rencana eskalasi penambahan kuota impor komoditas pupuk urea oleh pihak Thailand hingga menembus angka 100.000 ton per tahun dipastikan tidak akan mengganggu ketersediaan stok pasokan pupuk guna mencukupi kebutuhan di dalam negeri.

Sebelumnya, Perdana Menteri (PM) Thailand Anutin Charnvirakul telah menyampaikan penawaran resmi untuk menaikkan volume impor pupuk urea yang berasal dari Indonesia, yakni dari kisaran 60.000 ton menjadi 100.000 ton dalam kurun waktu satu tahun.

Wacana penawaran tersebut menjadi bagian integral dari kerangka penguatan kerja sama strategis di bidang ketahanan pangan, yang turut mencakup aspek penyediaan produk beras berkualitas tinggi, peningkatan volume perdagangan komoditas pertanian serta peternakan, hingga percepatan jalinan kerja sama pada sektor perikanan dan pengembangan industri halal.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia Yehezkiel Adiperwira mengemukakan bahwa pihak korporasi senantiasa siap mematuhi segala bentuk arahan serta mandat yang diberikan oleh pemerintah dalam setiap pelaksanaan kegiatan ekspor pupuk, termasuk pula dalam rangka merespons permintaan dari negara-negara mitra.

“Pupuk Indonesia senantiasa mengikuti arahan dan mandat pemerintah dalam setiap pelaksanaan ekspor pupuk, termasuk terkait permintaan dari negara mitra. Prinsip yang kami pegang teguh adalah pemenuhan kebutuhan pupuk nasional harus terjamin terlebih dahulu sebelum ekspor dilaksanakan,” kata Yehezkiel, Rabu (5/8/2026).

Ia memaparkan lebih lanjut bahwa Pupuk Indonesia memiliki tingkat kapasitas produksi yang sangat memadai untuk secara simultan memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus melayani permintaan dari pasar ekspor luar negeri.

Pada saat ini, akumulasi total kapasitas produksi yang dimiliki oleh perusahaan tercatat mencapai angka 14.8 juta ton per tahun. Khusus untuk proyeksi sepanjang tahun 2026 ini, target volume produksi pupuk urea dipatok mencapai 7,8 juta ton, sementara estimasi tingkat kebutuhan konsumsi domestik diperkirakan berada di kisaran angka 6,3 juta ton.

Dengan kalkulasi matematis tersebut, Pupuk Indonesia memastikan bahwa masih tersedianya ruang atau marjin yang cukup bagi perusahaan untuk menggenjot volume ekspor tanpa perlu mereduksi jatah alokasi pasokan pupuk bagi para petani lokal di dalam negeri.

“Dengan total kapasitas produksi mencapai 14,8 juta ton per tahun, Pupuk Indonesia memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan domestik sekaligus mendukung kebutuhan pasar regional. Pada 2026, produksi urea ditargetkan mencapai 7,8 juta ton, sementara kebutuhan domestik diperkirakan sekitar 6,3 juta ton sehingga terdapat ruang yang memadai untuk melakukan ekspor tanpa mengganggu pasokan bagi petani Indonesia,” terangnya.

Yehezkiel menegaskan kembali bahwa prioritas utama dalam setiap formulasi strategi bisnis korporasi tetap diletakkan pada aspek penjagaan ketahanan stok pupuk nasional. Menurut pandangannya, peluang ekspansi ekspor hanya akan dimanfaatkan secara optimal selama kebutuhan fundamental pupuk di dalam negeri telah terjamin terpenuhi sepenuhnya.

“Dengan pendekatan ini, dinamika pasar global justru menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai produsen pupuk yang andal, baik dalam mendukung ketahanan pangan domestik dan perekonomian nasional, maupun berkontribusi pada ketahanan pangan regional,” ujarnya.

Adapun rencana penambahan volume impor pupuk urea oleh pihak Thailand tersebut merupakan salah satu poin hasil pembahasan kerja sama bilateral yang diajukan oleh PM Thailand Anutin Charnvirakul langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.

Selain mengajukan peningkatan kuota pembelian produk pupuk asal Indonesia, pihak Thailand turut menyodorkan penawaran ekspor komoditas daging serta susu ke pasaran Indonesia sebagai bagian dari upaya mempererat jalinan kerja sama perdagangan serta sinergi ketahanan pangan di antara kedua negara.

Berdasarkan rekaman data statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia tercatat masih belum mampu melepaskan diri dari bayang-bayang tren defisit neraca neraca perdagangan bilateral bersama Thailand yang telah berlangsung secara terus-menerus semenjak tahun 2011 silam.

Kendati besaran nominal angka defisit tersebut senantiasa menunjukkan fluktuasi dari tahun ke tahun, posisi neraca perdagangan kedua negara hingga penutupan tahun 2025 yang lalu masih kokoh berada di zona negatif bagi pihak Indonesia.

Pada tahun 2025, catatan angka defisit perdagangan terpantau menyusut tajam hingga menyentuh level US$140,6 juta, seiring dengan torehan nilai ekspor Indonesia ke Thailand yang menembus angka US$8,77 miliar berbanding nilai impor yang berada di kisaran US$8,91 miliar.

Situasi tersebut mencatatkan perbaikan yang signifikan jika dikomparasikan dengan kondisi pada kurun waktu 2024, di mana pos defisit neraca perdagangan masih membengkak hingga mencapai angka US$2,02 miliar, dengan rincian perolehan nilai ekspor sebesar US$7,71 miliar serta nilai impor menembus US$9,73 miliar.

Pada tahun-tahun sebelumnya, rekam jejak defisit neraca perdagangan Indonesia dengan Thailand tercatat berada di level yang jauh lebih besar, yakni menyentuh angka US$3,03 miliar pada tahun 2023, tatkala nilai ekspor mendarat di kisaran US$7,22 miliar sementara arus impor melambung tinggi menembus angka US$10,25 miliar.

Serupa pula pada tahun 2022, posisi defisit bertengger di angka US$2,79 miliar dengan perolehan nilai ekspor sebesar US$8,20 miliar berbanding nilai impor sebesar US$10,99 miliar.

Sedangkan pada rentang tahun 2021 yang lalu, Indonesia membukukan angka defisit perdagangan sebesar US$2,06 miliar sebagai akumulasi dari perolehan nilai ekspor sebesar US$7,09 miliar dan nilai impor sebesar US$9,15 miliar.

Terkini