BPS Catat Pekerja Berusaha Sendiri Bertambah 1,38 Juta pada Mei 2026

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:08:01 WIB
BI Bali fasilitasi distribusi pangan [FOTO: NET].

JAKARTA - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali memberikan fasilitas distribusi pangan mengandalkan peran perusahaan umum daerah (perumda) demi menekan potensi inflasi sebagai langkah antisipasi terhadap dampak El Nino.

“Ketidakpastian cuaca yang disertai potensi El Nino kuat yang dapat mempengaruhi produksi pertanian,” kata Kepala Perwakilan BI Bali Achris Sarwani di Denpasar, Bali, Rabu (5/8/2026).

Achris menerangkan, selain urusan distribusi pangan, perumda pangan turut memegang peran dalam mengoptimalkan kerja sama antardaerah, sehingga wilayah yang mengalami surplus komoditas tertentu bisa menyalurkannya ke daerah yang kekurangan pangan.

Dalam hal penyerapan, penyediaan, hingga pasokan pangan di Bali misalnya, telah direalisasikan kolaborasi antara Perumda Mangu Giri Sedana Kabupaten Badung bersama Perumda Swatantra Kabupaten Buleleng serta Perumda Pasar Sewakadarma Kota Denpasar.

Selain itu, terjalin pula kemitraan penyediaan komoditas pangan strategis antara Rumah Tani Nusantara dengan Perumda Mangu Giri Sedana Kabupaten Badung.

Guna memperkokoh pengendalian inflasi ke depan, perwakilan bank sentral di Bali tersebut secara konsisten memperkuat sinergi serta inovasi bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali lewat empat pilar: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, hingga komunikasi yang efektif.

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, secara bulanan pada Juli 2026 Pulau Dewata mencatatkan deflasi sebesar minus 0,51 persen, berbalik arah dibanding Juni yang sempat mengalami inflasi sebesar 0,71 persen.

Kondisi deflasi tersebut dipicu oleh tibanya masa panen pada beberapa komoditas hortikultura seperti bawang merah serta bermacam jenis cabai di wilayah Bali.

Sementara itu, tingkat inflasi tahunan Bali mencatatkan penurunan dari posisi 3,27 persen pada Juni 2026 menjadi 2,42 persen.

Di lain sisi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa fenomena El Nino 2026 telah memasuki kategori kuat serta berpeluang melesat menjadi sangat kuat, sehingga berisiko memicu musim kemarau yang jauh lebih kering dan panjang di sejumlah area Indonesia.

Berdasarkan hasil pemantauan dasarian III-Juli 2026, BMKG menetapkan status El Nino berada dalam intensitas kuat.

BMKG pun telah merilis peringatan dini kekeringan meteorologis untuk dasarian I Agustus 2026 dengan level waspada di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Bali.

Terkini