El Nino Ancam Padi-Sawit, Bappenas Genjot Garam dan PLTS

Selasa, 04 Agustus 2026 | 05:04:01 WIB
Nizhar Marizi selaku Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas. (Foto: NET)

JAKARTA - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyatakan bahwa fenomena El Nino berpotensi menggenjot produksi garam serta memaksimalkan energi dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), kendati di sisi lain membawa ancaman penurunan hasil pertanian seperti padi, kelapa sawit, serta kopi.

Nizhar Marizi selaku Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas mengemukakan bahwa pihak pemerintah bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) beserta sejumlah lembaga telah merumuskan policy brief guna memetakan dampak El Nino sekaligus peluang potensial di berbagai bidang.

Berdasarkan tipikal dampaknya, Bappenas mengklasifikasikan pengaruh El Nino kuat ke dalam empat sektor utama, meliputi bidang kehutanan, lahan, dan pertanian; energi serta sumber daya air; kesehatan; hingga pangan akuatik.

Pada sektor lahan dan pertanian, fenomena El Nino kuat diprediksi memicu potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus mereduksi produktivitas komoditas pangan serta perkebunan utama.

“Kalau di pertanian [dampak El Nino] terhadap produktivitas padi, kelapa sawit, kopi, juga tentunya ada risiko gagal panen dan juga gangguan terhadap organisme pengganggu tanaman,” ujar Nizhar dalam Dialog Nasional bertajuk Memperkuat Respons Lintas Sektor dalam Menghadapi Dampak El Nino Kuat di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta Pusat, Selasa (4/8/2026).

Walau demikian, di balik ancaman tersebut, Bappenas mengidentifikasi adanya prospek untuk memaksimalkan komoditas yang jauh lebih tahan terhadap cuaca kering, contohnya tebu, tanaman palawija, serta hortikultura.

Selanjutnya pada bidang energi dan sumber daya air, El Nino diestimasikan memicu penurunan cadangan air yang berimbas pada merosotnya pasokan listrik dari PLTA maupun PLTMH.

Kendati begitu, ia menilai bahwa cuaca yang cenderung kering serta pancaran matahari yang lebih intensif dapat dimanfaatkan secara maksimal guna menggenjot pasokan energi hijau melalui instalasi PLTS, termasuk pemanfaatan PLTS atap.

“Dengan makin berkurangnya tutupan awan yang biasanya menutupi PLTS ini bisa menjadi salah satu peluang kami untuk mengoptimalkan produksi listrik dan PLTS pada saat El Nino ini kami alami, karena memang tutupan awan berkurang, dan juga intensitas sinar matahari lebih tinggi,” terangnya.

Dari aspek kesehatan publik, El Nino kuat diantisipasi memicu kerentanan terhadap sejumlah penyakit akibat perubahan iklim, mulai dari demam berdarah dengue (DBD), malaria, pneumonia, sampai diare yang berpotensi melonjak seiring dinamika lingkungan serta cuaca ekstrem.

Sementara itu, pada ranah pangan akuatik, fenomena tersebut diproyeksikan menekan hasil perikanan budidaya seperti ikan nila, lele, rumput laut, hingga udang payau akibat pergeseran kualitas air.

Kendati demikian, Bappenas melihat adanya prospek lonjakan tangkapan ikan pada sektor perikanan tangkap, khususnya komoditas tongkol, cakalang, dan tuna, di samping kenaikan hasil garam akibat musim kemarau yang lebih panjang serta proses penguapan yang jauh lebih maksimal.

“Juga dengan kondisi yang lebih kering ini mendukung peningkatan produksi garam karena proses evaporasinya lebih optimal,” terangnya.

Di sisi lain, Andri Ramdhani selaku Deputi Bidang Meteorologi BMKG menegaskan bahwa El Nino tidak selalu membawa implikasi buruk, melainkan turut menghadirkan peluang jika dikelola secara tepat.

“El Nino ini tidak hanya serta-merta satu hal yang negatif, ada hal positif. Contoh sebetulnya seperti produktivitas garam. Garam ini juga akan lebih dioptimalkan, dan juga untuk potensi penangkapan ikan. Jadi ada fenomena di bulan upwelling yang dapat meningkatkan produktivitas ikan. Jadi hal positif pun juga kami bisa raih di fase El Nino ini,” jelas Andri.

Menatap ke depan, Andri menambahkan bahwa pihak BMKG bakal memperkuat jaringan pemantauan meteorologi kelautan secara real time guna mengoptimalkan deteksi dini terhadap pergeseran suhu permukaan laut yang berkaitan erat dengan El Nino.

“BMKG mengembangkan sistem pemantauan meteorologi di laut yang lebih komprehensif real time, sehingga informasi dapat dianalisis lebih lanjut untuk memberikan warning secara akurat, tepat, dan dapat dioptimalkan untuk berbagai sektor,” pungkasnya.

Terkini

Google Chrome Hapus Aplikasi Total pada Oktober 2028

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:27:32 WIB

Samsung Tindak Tegas Aplikasi TV Pintar Pembagi Koneksi

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:24:31 WIB

Bocoran Kamera Galaxy S27 Pro & Ultra Terungkap

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:23:02 WIB

Xbox 360 Segera Bisa Dimainkan di PC

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:21:31 WIB