Pendapatan KIJA Turun 10,63 Persen pada Semester I/2026

Senin, 03 Agustus 2026 | 01:10:01 WIB
Jababeka (KIJA) Bukukan Pendapatan Rp2,43 Triliun Semester I/2026 [FOTO: NET].

JAKARTA – Emiten pengembang kawasan industri PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. (KIJA) membukukan performa yang lesu sepanjang enam bulan pertama 2026. Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, emiten berkode saham KIJA membukukan pendapatan Rp2,43 triliun. Realisasi itu turun 10,63% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari posisi Rp2,72 triliun pada semester I/2025.

Selanjutnya beban pokok penjualan dan pendapatan jasa hanya berkurang 0,86% yoy menjadi Rp1,59 triliun pada semester I/2026, dari sebelumnya Rp1,60 triliun. Alhasil, laba bruto konsolidasian menyusut hingga 24,72% yoy menjadi Rp840,46 miliar dari sebelumnya Rp1,11 triliun. Adapun, marjin bruto tercatat turun menjadi 34% pada semester I/2026 dari posisi 41% pada periode yang sama tahun lalu.

KIJA pun berbalik rugi Rp177,88 miliar pada semester I/2026, kontras dari posisi laba Rp310,65 miliar pada semester I/2025. Selanjutnya, laba sebelum dikurangi bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) yang disesuaikan KIJA mencapai Rp747,7 miliar pada semester I/2026, turun 25% dibandingkan Rp995,3 miliar pada semester I/2025.

Wakil Direktur Utama KIJA Budianto Liman menjelaskan pelemahan kinerja pada semester pertama tahun ini dipengaruhi oleh lebih rendahnya kontribusi bisnis pengembangan lahan dibandingkan semester pertama tahun lalu yang sangat kuat.

"Rugi bersih yang dilaporkan terutama disebabkan oleh biaya satu kali yang bersifat nonoperasional berupa rugi selisih kurs dan penghentian instrumen derivatif terkait refinancing Senior Notes kami," kata Budianto dalam siaran pers, dikutip Senin (3/8/2026).

Di luar pos-pos yang tidak berulang itu, dia menegaskan perseroan tetap mampu mencetak laba di tingkat operasional. Budianto mengatakan perseroan melihat permintaan yang baik di lahan industri baik di Cikarang maupun Kendal.

Corporate Secretary KIJA Muljadi Suganda menambahkan bahwa rugi perseroan disebabkan oleh beban nonoperasional yang timbul dari refinancing Senior Notes Perseroan menjadi pinjaman bank, termasuk rugi selisih kurs sebesar Rp280,7 miliar, kerugian sebesar Rp154,6 miliar atas penghentian instrumen derivatif (lindung nilai/hedging), serta beban amortisasi yang dipercepat atas penebusan (redemption) Senior Notes 2027 sebesar Rp24,9 miliar.

Selanjutnya, penurunan laba bruto konsolidasian disebabkan oleh kontraksi kontribusi penjualan lahan industri yang secara umum memiliki marjin lebih tinggi, serta kenaikan kontribusi Pilar Infrastruktur yang memberikan pendapatan berulang yang lebih stabil namun dengan marjin yang lebih rendah dibandingkan penjualan lahan.

"Selain itu, segmen listrik juga mencatatkan marjin yang sementara lebih rendah pada semester I/2026 akibat faktor operasional yang menurut Perseroan bersifat sementara dan tidak mencerminkan potensi laba jangka panjang segmen tersebut," papar Muljadi.

Selanjutnya, laba operasional KIJA yang sebesar Rp524 miliar pada semester I/2026 juga turun dari Rp822,8 miliar pada semester I/2025 disebabkan oleh penurunan pendapatan lahan industri akibat perbedaan waktu pengakuan pendapatan di Kendal.

Meskipun demikian, Muljadi menunjukkan bahwa KIJA tetap membukukan laba operasional yang didukung oleh pertumbuhan berkelanjutan bisnis infrastruktur yang menghasilkan pendapatan berulang. Perseroan pun optimistis portofolio bisnis yang terdiversifikasi serta meningkatnya pendapatan berulang akan terus menjadi fondasi yang kuat bagi pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.

Terkini