Rumah Sayur Hadir di Kuningan, Targetkan Serapan Panen 20 Ton Sehari

Senin, 27 Juli 2026 | 21:12:01 WIB
Petani Kuningan Bidik Pasar Nasional, Target Serap 20 Ton Per Hari [FOTO: NET].

JAKARTA - Kalangan petani hortikultura di wilayah Kabupaten Kuningan kini mempunyai kesempatan emas untuk mengamankan kepastian pemasaran menyusul diresmikannya operasional Rumah Sayur yang mematok target penyerapan hasil bumi sebanyak 15 hingga 20 ton setiap harinya. 

Skema ini dirancang guna memangkas tingkat ketergantungan petani terhadap tengkulak sekaligus mengokohkan alur distribusi pangan dari titik sentra produksi menuju jangkauan pasar yang jauh lebih luas.

Pada fase permulaan ini, Rumah Sayur membuka lebar pintu partisipasi bagi seluruh petani serta anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kabupaten Kuningan untuk menyetorkan hasil panen mereka. 

Seluruh komoditas yang berhasil dihimpun nantinya akan dikumpulkan terlebih dahulu di gudang penyimpanan kawasan Ciloa sebelum didistribusikan ke berbagai kota tujuan.

Direktur Rumah Sayur sekaligus CEO Rumah Tani Nusantara, Bahtiar, memaparkan bahwa pendirian fasilitas Rumah Sayur ini diproyeksikan sebagai pusat distribusi utama yang mempertemukan petani langsung dengan skala pasar yang lebih masif. 

Menurutnya, setiap petani dan KWT di Kuningan berhak menjadi mitra pemasok asalkan sanggup memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan.

“Semua petani dan KWT di Kabupaten Kuningan bisa memasok hasil panennya kepada kami. Rumah Sayur akan menjadi hub distribusi. Bulan depan kami juga akan membuka 100 titik Rumah Sayur di Jakarta,” kata Bahtiar, Senin (27/7/2026).

Lebih lanjut ia merinci, pada tahap awal operasional pihaknya mengincar volume penyerapan komoditas pertanian sebanyak 15 sampai 20 ton per hari. Apabila target tersebut konsisten tercapai, total volume distribusi bulanan diproyeksikan mampu menyentuh angka 450 hingga 600 ton, atau setara dengan 5.475 hingga 7.300 ton dalam kurun waktu satu tahun penuh.

Berdasarkan keterangan Bahtiar, kapasitas tampung serapan tersebut bakal terus dievaluasi dan ditingkatkan seiring bertambahnya produktivitas hasil tani serta ekspansi jaringan pemasarannya. Rumah Sayur tidak sekadar berfungsi sebagai pembeli produk panen semata, melainkan turut memberikan pendampingan intensif bagi para petani guna mendongkrak mutu serta volume produksi agar senantiasa memenuhi spesifikasi permintaan pasar.

Ia juga mengungkapkan bahwa Rumah Tani Nusantara selama ini telah rutin memasok berbagai keperluan logistik bahan pangan ke sejumlah korporasi skala nasional, di antaranya jaringan restoran Mie Gacoan, Indofood, serta Sasa. 

Akses jejaring pemasaran yang luas ini dinilai membuka peluang emas bagi komoditas hortikultura asal Kuningan untuk menembus pasar ritel modern maupun industri pengolahan makanan.

“Kami tidak hanya membeli hasil panen, tetapi juga akan mendampingi petani agar kapasitas produksinya terus meningkat. Harapan kami, Rumah Sayur menjadi rumah bersama bagi petani Kuningan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujarnya.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Fikri Widyanugraha, berpandangan bahwa penguatan rantai pasok pangan merupakan salah satu instrumen krusial dalam menjaga stabilitas harga komoditas di tengah eskalasi tekanan inflasi akibat gejolak perekonomian global. 

Menurut Fikri, strategi peredaman inflasi tidak cukup hanya bertumpu pada operasi pasar, melainkan membutuhkan efisiensi sistem distribusi yang mampu menghubungkan wilayah sentra produsen dengan konsumen secara langsung.

“Kami menyambut baik hadirnya Rumah Sayur karena pengendalian inflasi harus dilakukan secara terintegrasi, menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan petani tetap sejahtera,” katanya.

Sementara itu, Asisten Deputi Pengembangan BUMN Bidang Infrastruktur dan Logistik Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, RR Yuli Sri Wilanti, menambahkan bahwa kolaborasi erat antara Rumah Tani Nusantara, Perumda, pemerintah daerah, serta penyedia jasa logistik diyakini mampu memperkuat sistem distribusi produk pertanian antarwilayah. 

Ia menilai model bisnis ini sangat potensial dalam mewujudkan ekosistem agribisnis yang terpadu, mulai dari proses penyerapan hasil panen, manajemen penyimpanan, hingga tahap pemasaran komersial.

"Petani tidak hanya memiliki akses terhadap pasar yang lebih luas, tetapi juga peluang memperoleh nilai tambah dari hasil produksi yang selama ini lebih banyak dinikmati mata rantai distribusi," tutup Yuli.

Terkini