JAKARTA - Para peternak di wilayah Kabupaten Wonogiri mulai melirik sektor usaha peternakan sapi perah sebagai alternatif sumber pendapatan harian. Wilayah Kecamatan Bulukerto tercatat menjadi satu-satunya kawasan di kabupaten ini yang telah berhasil mengembangkan peternakan sapi perah secara mandiri.
Santoso selaku peternak asal Bulukerto mengaku mulai menekuni bidang peternakan sapi perah sejak tahun 2018 silam. Langkah tersebut bermula dari rasa keprihatinannya tatkala bertugas sebagai tenaga kesehatan hewan dan mendapati banyak anakan sapi yang mati akibat kekurangan asupan air susu dari induknya.
Seiring berjalan waktu, usaha yang dirintisnya kian berkembang dan menginspirasi para peternak lain untuk ikut serta.
Kini, tercatat ada sebanyak 10 orang peternak sapi perah di Bulukerto yang tergabung ke dalam wadah Komunitas Mulia Sentosa Sapi Perah Bulukerto. Jumlah populasi keseluruhan sapi perah di daerah tersebut telah mencapai 55 ekor, dengan rincian sebanyak 25 ekor di antaranya berada dalam kondisi aktif berproduksi.
Ia menerangkan bahwa seekor sapi rata-rata mampu menghasilkan susu sebanyak 15 liter setiap harinya dengan patokan harga jual senilai Rp11.000 per liter. Dari total 25 ekor sapi yang produktif tersebut, dalam sehari mampu menghasilkan kisaran 450 hingga 500 liter susu.
“Kalau ditotal, omzet penjualan susu berkisar Rp95 juta sampai Rp100 juta per bulan," ujar Santoso yang juga menjabat sebagai Ketua Komunitas Mulia Sentosa pada hari Kamis (23/7/2026).
Santoso menambahkan bahwa besaran biaya operasional produksi harian per satu ekor sapi berkisar antara Rp50.000 sampai Rp60.000, sementara perolehan pendapatan kotor yang dihasilkan dari satu ekor sapi mampu menyentuh angka Rp165.000 per hari.
Berdasarkan pandangannya, serapan pasar untuk komoditas susu di Wonogiri terbuka sangat luas, baik untuk keperluan konsumsi langsung, upaya penyelamatan pedet, maupun guna memenuhi kebutuhan pabrik industri pengolahan susu sapi.
Ia pun mematok target agar Kecamatan Bulukerto ke depannya mampu bertransformasi menjadi pusat sentra penghasil sapi perah di Wonogiri, mengingat selama ini wilayah Wonogiri lebih dikenal luas sebagai daerah produsen sapi potong.
“Permintaan susu sapi ini tinggi sekali. Jujur saja, saat ini mau produksi seberapa pun susu sapi, pasti terserap pasar. Istilahnya kami justru masih kekurangan produksi,” ujarnya.
Di sisi lain, Camat Bulukerto, Djuwariyah, menyampaikan komitmen dukungan penuhnya terhadap penguatan potensi daerah yang dipimpinnya sebagai sentra sapi perah lantaran terbukti ampuh dalam mendongkrak tingkat kesejahteraan warga.
Kendati demikian, ia tidak menampik fakta bahwa tingginya harga pasaran indukan sapi perah yang mampu menembus kisaran Rp30 juta per ekor masih menjadi hambatan utama dalam menggenjot percepatan populasi.
“Kami memang ingin menjadikan Bulukerto ini sentra sapi perah di Wonogiri. Arahnya ke sana,” kata Djuwariyah.
Secara terpisah, Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Wonogiri, Baroto Eko Pujanto, memberikan sambutan positif terhadap geliat pertumbuhan sektor peternakan sapi perah di Bulukerto.
Pihak dinas menyatakan kesiapannya memberikan sokongan lewat pelaksanaan program prioritas Inseminasi Buatan (IB) khusus bagi sapi perah serta memfasilitasi pembentukan kelompok tani yang berbadan resmi agar para peternak tidak mengalami kendala tatkala hendak mengakses berbagai program bantuan dari pemerintah.
“Ini bagus sekali. Kami dukung dan akan memfasilitasi pengembangannya. Selama ini Wonogiri baru dikenal sebagai penghasil sapi potong,” kata Baroto.