Saham Pilihan Saat Suku Bunga Tinggi di Tengah Proyeksi Kenaikan BI

Rabu, 22 Juli 2026 | 23:16:32 WIB
Panduan Pilih Saham Potensial Cuan di Tengah Tren Kenaikan Suku Bunga [FOTO: NET].

JAKARTA — Para pelaku pasar dianjurkan untuk bersikap lebih selektif dalam menyeleksi instrumen saham di tengah proyeksi bahwa Bank Indonesia (BI) bakal kembali mengerek naik suku bunga acuan hingga menyentuh level 6% pada agenda Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026.

 Penerapan kebijakan suku bunga yang ketat atau higher for longer ini diprediksi bakal terus berlangsung sampai penghujung tahun, sehingga mempersempit ruang laju penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sekaligus berdampak pada prospek bisnis sejumlah sektor industri.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto memperkirakan bahwa pihak BI masih akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) ke angka 6%, yang selaras dengan ekspektasi pergerakan kenaikan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed.

”Ke depan kalau kami lihat, besok kalau kami perkirakan suku bunga akan naik sekali lagi menjadi 6%. Setelah itu akan tetap stay di 6% sampai akhir tahun. Jadi situasi likuiditasnya dari sisi moneter akan cenderung diperketat,” kata Rully, Selasa (21/7/2026).

Menurut pandangannya, kondisi pengetatan tersebut bakal memberikan tekanan lebih berat bagi sektor perbankan yang memiliki rasio pinjaman terhadap dana pihak ketiga atau loan to deposit ratio (LDR) di angka tinggi. Kendati demikian, pihak Mirae Asset tetap mempertahankan sikap pandangan yang netral terhadap sektor perbankan secara keseluruhan.

”Biasanya memang, bank yang memiliki LDR yang tinggi, mengalami dampak negatif yang lebih besar ketika suku bunga dinaikkan. Kalau dari sisi perbankan, memang kami lihat sektornya masih netral,” katanya.

Nada serupa turut diutarakan oleh Financial Educator Manager Sucor Sekuritas Henry Wijaya. Ia menaksir bahwa BI Rate bakal terkerek 25 bps pada bulan Juli ini lantaran laju inflasi sudah mendekati ambang batas atas target bank sentral, ditambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang masih terus berlanjut. Bahkan, ruang bagi pelonggaran pemangkasan suku bunga dinilai masih sangat terbatas hingga akhir tahun mendatang.

”Pemangkasan BI Rate signifikan di 2026 terjadi kecuali ada trigger jelas dari sisi The Fed dan stabilisasi rupiah yang solid,” ujarnya.

Pihak Kiwoom Sekuritas turut memproyeksikan kenaikan BI Rate ke level 6%. Analis Kiwoom Sekuritas Kevin Yudha Pratama berpendapat bahwa kebijakan suku bunga di level tinggi kemungkinan besar masih bakal bertahan hingga penutupan tahun, sekalipun celah bagi BI untuk menahan suku bunga tetap terbuka lebar.

”Kami menilai kebijakan suku bunga tinggi kemungkinan masih akan bertahan hingga akhir tahun karena ruang pelonggaran masih terbatas, selama volatilitas rupiah, risiko imported inflation, aliran dana asing, dan ketidakpastian global masih cukup tinggi,” katanya.

Dari kacamata pasar modal, pihak Kiwoom menilai bahwa penerapan suku bunga tinggi berpotensi menahan laju kenaikan IHSG dalam rentang waktu jangka pendek. 

Walau demikian, tanda-tanda pemulihan sentimen pasar yang tecermin dari reli indeks serta masuknya kembali arus modal asing membuat tekanan yang terjadi tidak akan sehebat pada fase awal siklus kenaikan suku bunga sebelumnya.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menuturkan bahwa seandainya BI tetap mempertahankan sikap yang hawkish, maka IHSG berpotensi bergerak di kisaran rentang 6.000–6.500 sampai akhir tahun.

”Higher for longer hingga akhir tahun [membuat] upside terbatas, base case masih 6.000-6.500. Penentu terbesar tetap MSCI November, bukan level BI Rate,” katanya.

Menghadapi situasi pasar yang demikian, para analis menyarankan agar para investor sebaiknya memusatkan perhatian pada saham-saham yang memiliki fondasi keuangan kokoh serta ketahanan tinggi terhadap lonjakan biaya pendanaan. 

Panin Sekuritas menjagokan saham-saham di sektor perbankan seperti BBCA, BBRI, serta BMRI yang disokong oleh tingkat profitabilitas dan kualitas aset yang sangat solid. Di sisi lain, saham TLKM dinilai memiliki daya tarik tersendiri sebagai instrumen defensif berkat sokongan arus kas perusahaan yang stabil.

”Apabila BI mulai memberi sinyal pelonggaran, saham properti seperti BSDE dan CTRA berpotensi menjadi salah satu penerima manfaat karena ekspektasi penurunan biaya kredit dapat mendorong pemulihan permintaan,” kata analis Panin Sekuritas Elandry Pratama.

Sementara itu, pihak Kiwoom Sekuritas turut merekomendasikan emiten berfundamental kuat seperti BBCA dan INDF, serta menyertakan saham ADMR yang dipandang berpotensi menuai keuntungan dari pelemahan nilai tukar rupiah berkat kepemilikan pendapatan berbasis mata uang dolar AS.

Terkini