Sibuk Terus Bukan Berarti Produktif, Simak Penjelasan Riset Ini

Selasa, 21 Juli 2026 | 01:33:02 WIB
Terlalu Sibuk Tak Jamin Produktif [FOTO: NET].

JAKARTA - Banyak kalangan memandang kesibukan sebagai wujud nyata dari produktivitas. Rutinitas yang padat, menangani aneka pekerjaan seketika, serta hampir tanpa jeda untuk beristirahat sering dianggap tolok ukur seseorang menunaikan tugas secara optimal. 

Namun, riset membuktikan bahwa asumsi tersebut tidak selamanya tepat. Pada kondisi tertentu, justru mengenali waktu yang tepat untuk mengerahkan daya serta kapan harus beristirahat merupakan langkah yang jauh lebih adaptif bagi fisik dan akal.

Hasil pengamatan tersebut dimuat dalam jurnal Neuroscience & Biobehavioral Reviews keluaran 2026 oleh pakar psikologi Nathalie André bersama kelompok dari Universitas Poitiers, Perancis. 

Para penyelidik menerangkan bahwa akal tidak sekadar mendorong insan untuk berkarya sekuat tenaga, melainkan senantiasa menghitung apakah daya yang dicurahkan sepadan dengan keuntungan yang bakal didapat.

Mengapa terlalu sibuk belum tentu produktif? Akal senantiasa memperhitungkan untung rugi. Dalam ranah ilmu saraf komputasional, insan cenderung mengikuti principle of least effort atau kaidah upaya sekecil mungkin. 

Artinya, manakala dihadapkan pada pelbagai opsi berbuah serupa, akal bakal menetapkan cara yang menuntut energi paling minim. Kendati demikian, hal tersebut tak menyiratkan insan secara kodrati pemalas. Peneliti menegaskan bahwa seseorang senantiasa bersedia mencurahkan daya besar tatkala hasil yang diincar dinilai setimpal.

Melalui gagasan yang dikenal sebagai active inference, akal terus menaksir apakah suatu kegiatan layak dikerjakan berdasarkan wacana atau ganjaran yang bakal diterima. 

Apabila faedahnya dipandang melampaui bebannya, seseorang cenderung tergerak menuntaskan tugas berkenaan. Sebaliknya, tatkala tenaga disangka tiada membuahkan arti bermakna, akal bakal lebih condong menghemat energi.

Produktivitas bukan perihal terus bekerja. Menurut peneliti, kecakapan mengatur tenaga merupakan elemen krusial dari mekanisme tubuh menjaga kesetimbangan atau allostasis, yakni situasi tatkala cadangan daya tubuh dimanfaatkan secara berdaya guna sesuai keperluan. 

Karenanya, bekerja tanpa henti bukanlah selalu opsi terbaik. Mengambil jeda pada momentum yang pas justru membantu merawat tenaga agar sanggup dicurahkan bagi kegiatan yang benar-benar esensial.

Pemahaman ini turut menguraikan alasan seseorang sanggup ikhlas berlatih maraton, mendaki gunung, ataupun menghabiskan waktu berjam-jam mendalami kecakapan anyar. Sekalipun kegiatan tersebut melelahkan, faedah yang dirasakan dipandang cukup besar sehingga tenaga itu terasa pantas dikerahkan.

Penyelidikan tersebut turut memetakan delapan ragam "beban usaha" yang ditaksir akal sebelum seseorang mengambil keputusan mengeksekusi suatu kegiatan, yakni:

Energi metabolik atau tenaga yang wajib dikeluarkan tubuh.

Beban berpikir (cognitive control) yang diperlukan.

Durasi yang dibutuhkan guna merampungkan tugas.

Tekanan waktu atau derajat urgensi.

Potensi kepenatan fisik maupun psikis.

Kemungkinan timbulnya rasa sakit.

Frustrasi atau peluang yang terlewat akibat menetapkan satu kegiatan dibanding kegiatan lain.

Bahaya serta ancaman yang sanggup memicu kecemasan.

Menariknya, sebagian beban tersebut berkarakter objektif, semisal lamanya pekerjaan atau kebutuhan tenaga tubuh. Akan tetapi, sebagian lainnya sangat dipengaruhi pandangan masing-masing subjek. Karenanya, tugas yang terasa berat bagi seseorang belum tentu diresapi serupa oleh pihak lain.

Beristirahat pun bagian dari strategi. Temuan ini sekaligus meruntuhkan pandangan bahwa kemalasan senantiasa lekat dengan sifat buruk. Para penyelidik menilai merangkai penghematan tenaga tiada berarti menghindari tanggung jawab. Justru, kecakapan mematok kapan wajib berkarya giat dan kapan perlu beristirahat menolong seseorang mendayagunakan cadangan tubuh secara jauh lebih ampuh.

Penyelidikan tersebut turut mengutip serangkaian kajian pada anak-anak yang memperlihatkan bahwa tenaga bukanlah entitas yang secara kodrati dijauhi insan. Dalam salah satu pengamatan, anak berumur enam tahun justru lebih banyak menyunggingkan senyum seusai sukses menuntaskan tugas yang sukar ketimbang tugas yang gampang. Mereka pun tampak lebih menikmati tantangan baru daripada mengulang tugas serupa.

Pencapaian itu mengindikasikan bahwa insan cenderung menikmati daya tatkala daya tersebut membuahkan pembelajaran atau capaian yang berarti. Dengan kata lain, produktivitas bukanlah sekadar perihal tampak sibuk sepanjang hari. 

Yang jauh lebih esensial adalah memastikan tenaga dicurahkan pada kegiatan yang benar-benar mendatangkan faedah, sekaligus menyediakan ruang bagi fisik serta akal guna beristirahat manakala dibutuhkan.

Terkini