JAKARTA — Posisi nilai tukar rupiah tercatat bergerak dibuka menguat sebesar 0,05 persen atau terkerek naik sebanyak 9 poin ke level Rp17.939 per dolar Amerika Serikat (AS) pada awal sesi perdagangan hari Selasa (21/7/2026). Bersamaan dengan itu, indikator indeks dolar AS (DXY) turut terpantau dibuka menguat tipis 0,01 persen ke posisi 100,96.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengemukakan proyeksi bahwa pergerakan nilai tukar rupiah pada hari ini nantinya akan ditutup melemah di dalam rentang level Rp17.940 hingga Rp18.000 per dolar AS. Pada sesi perdagangan sebelumnya, Senin (21/7), rupiah ditutup melemah 27 poin ke level Rp17.948 per dolar AS.
Ibrahim menilai bahwa tekanan pelemahan yang mendera mata uang rupiah tersebut bersumber dari gelombang sentimen negatif yang menghantam pasar. Dari kancah eksternal global, para pelaku pasar tengah mencermati secara saksama eskalasi konflik antara AS dan Iran yang kembali bergejolak memanas.
Terbaru, kedua belah pihak negara tersebut dilaporkan saling melancarkan serangkaian serangan militer sepanjang akhir pekan lalu.
Pihak Komando Pusat AS menyatakan telah mengerahkan lebih banyak gelombang serangan militer yang menyasar wilayah Iran pada hari Minggu malam.
"Pertempuran masih tetap berfokus pada kendali Selat Hormuz. Komando Pusat AS menyatakan bahwa serangan terbarunya bertujuan untuk terus melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal di Hormuz," kata Ibrahim, dikutip Selasa (21/7/2026).
Sebagai dampak langsung dari kecamuk perang tersebut, jalur distribusi pengiriman logistik melalui kawasan Selat Hormuz sebagian besar masih mengalami gangguan serius, sehingga menjaga tingkat kewaspadaan pasar terhadap potensi risiko hambatan pasokan minyak lanjutan.
Lonjakan harga minyak mentah yang lebih tinggi tersebut turut memicu kembali kekhawatiran bahwa tingkat inflasi berisiko tetap bertahan di atas target sasaran yang ditetapkan oleh bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve).
Ibrahim menuturkan bahwa kondisi tersebut berpotensi memaksa para otoritas pembuat kebijakan moneter untuk mempertahankan penerapan rezim suku bunga ketat dalam durasi yang lebih lama.
BACA JUGA Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Senin 20 Juli 2026 Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Selasa 21 Juli 2026 Alarm Ketahanan Eksternal RI Akibat Depresiasi Rupiah dari S&P dan Fitch
Sementara itu, apabila meninjau dinamika sentimen yang berkembang di ranah domestik dalam negeri, Ibrahim memaparkan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah saat ini turut dipengaruhi oleh kondisi fundamental perekonomian Indonesia. Di tengah derasnya arus masuk investasi asing, lanjutnya, pelemahan pada sektor investasi domestik serta kelesuan tingkat konsumsi rumah tangga diestimasi bakal menahan laju pertumbuhan ekonomi nasional berada di bawah level psikologis 5 persen.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 diperkirakan hanya mencapai sekitar 4,9% secara tahunan (YoY). Meski realisasi investasi mencapai Rp511,8 triliun atau tumbuh 7,1% yoy, kontribusinya dinilai belum mampu mengompensasi perlambatan di sisi permintaan domestik," tandasnya.