JAKARTA - Banyak orang memiliki impian serupa saat membayangkan masa tua. Mungkin Anda berharap dapat terus bepergian menikmati dunia, mencapai puncak karier, atau menghabiskan waktu selama mungkin bersama orang-orang terkasih.
Namun, apa artinya umur panjang jika bertahun-tahun di antaranya harus dihabiskan dengan kondisi fisik yang terus menurun dan tidak berfungsi maksimal? Berangkat dari kesadaran tersebut, istilah healthspan (masa hidup berkualitas) kini semakin diutamakan ketimbang sekadar berfokus pada angka usia.
Banyak orang mencari kualitas hidup di sisa usia agar terbebas dari keterbatasan fisik yang menyiksa.
"Banyak pasien saya dengan penyakit serius mengatakan, mereka tidak cuma ingin hidup lebih lama," ungkap Penasihat Klinis di Marietta Springs, Brian Honeyman, MD, PhD, Minggu (19/7/2026).
"Mereka ingin tambahan waktu itu dipakai untuk kumpul bersama keluarga, bisa mengambil keputusan sendiri, dan melakukan hal-hal yang bermakna buat hidup mereka," lanjut Honeyman.
Untuk memahami konsep ini, perlu dilihat perbedaan mendasar antara umur panjang dan masa hidup berkualitas. Umur panjang merujuk pada total tahun yang dijalani seseorang. Sementara itu, masa hidup berkualitas adalah jumlah tahun yang dihabiskan dalam kondisi tubuh kuat, fungsional, dan bugar.
Fakta menunjukkan, masa hidup berkualitas seseorang sering berakhir lebih cepat. Banyak orang bertahan hidup hingga satu dekade lebih, tetapi kehilangan kemandiriannya.
"Seiring bertambahnya usia, lansia terkadang menjadi renta, bergantung pada orang lain, dan butuh bantuan untuk melakukan rutinitas sehari-hari," kata Supervisor Terapi Fisik dan Manajer Program Umur Panjang di Gaylord Specialty Healthcare, Corey Podbielski, PT, DPT.
"Fokus pada masa hidup berkualitas adalah upaya untuk memberikan 'kehidupan pada usiamu', bukan sekadar menambah usia pada hidupmu," imbuh dia.
Dunia medis saat ini luar biasa dalam menyelamatkan nyawa, namun sering kali kemajuan teknologi tidak diimbangi dengan kemampuan mempertahankan kemandirian pasien.
"Kami sudah sangat maju dalam membuat manusia hidup lebih lama, tapi belum cukup berhasil membuat mereka tetap sehat untuk menikmati hari tua," jelas Podbielski.
Menurut dia, pergeseran fokus ke masa hidup berkualitas ini sifatnya proaktif, bukan reaktif, dengan mengubah gaya hidup demi menjaga kemandirian saat menua.
"Sehingga, kami tidak harus terus bergantung pada obat-obatan ketika ada yang rusak di dalam tubuh," ucap Podbielski.
Membangun masa hidup berkualitas berarti menjaga fondasi gaya hidup yang disiplin, mulai dari olahraga, tidur berkualitas, nutrisi, hingga interaksi sosial.
"Menjaga rentang sehat berarti melindungi fondasi yang menopang kesehatan kami. Ini mencakup aktivitas fisik rutin, terutama saat kami bertambah tua, untuk menjaga kekuatan dan keseimbangan," kata Podbielski.
"Kebiasaan tidur yang baik, hubungan sosial yang bermakna, gizi yang cukup, akses ke perawatan pencegahan, dan pengendalian penyakit kronis juga sangat berpengaruh," lanjut dia.
Dari seluruh fondasi tersebut, salah satu upaya terbaik adalah berfokus pada latihan ketahanan otot dan jantung.
"Sekadar memenuhi panduan aktivitas fisik saja sudah sangat berharga. Ini termasuk latihan beban setidaknya dua hari seminggu, dan melakukan olahraga aerobik dengan intensitas sedang selama 150 hingga 300 menit per minggu, atau intensitas tinggi selama 75 hingga 150 menit per minggu," ujar Podbielski.
Bagi pemula, jalan kaki adalah langkah praktis.
"Targetkan 10.000 langkah setiap harinya, tapi setiap tambahan 500 hingga 1.000 langkah per hari terbukti memberi manfaat besar bagi umur panjang," pungkas dia.