MUI Siapkan Roadmap Pesantren Mandiri Ekonomi dan Ribuan Santri-Preneur

Senin, 20 Juli 2026 | 19:41:32 WIB
MUI Dorong Pesantren Jadi Episentrum Ekonomi dan Cetak Santri-Preneur [FOTO: NET].

JAKARTA - Komisi Pesantren Majelis Ulama Indonesia (MUI) terus memperkuat fungsi pesantren sebagai penggerak ekonomi umat. Melalui acara Multaq? Ru’as?’ al-Ma‘?hid II yang bertajuk "Analisis Potensi dan Inkubasi Bisnis Pondok Pesantren", MUI mendorong terciptanya pesantren yang mandiri secara ekonomi serta mampu melahirkan ribuan santri-preneur.

Forum strategis tersebut merupakan bagian dari rangkaian Pra-Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang dilaksanakan di STMIK AMIK Bandung, Jawa Barat, pada Sabtu (18/7/2026).

Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam merumuskan arah baru pengembangan ekonomi berbasis pesantren. Setelah sukses mengadakan multaqa pertama di Kediri, Jawa Timur, pertemuan ini secara mendalam membahas pemetaan potensi ekonomi serta strategi inkubasi bisnis di lingkungan pesantren.

Wasekjen MUI, KH Choirul Sholeh Rasyid, menyebutkan bahwa pesantren memiliki peran sangat strategis dalam membangun kemandirian ekonomi umat dan bangsa.

"Pesantren sangat penting perannya terkait tentang kemandirian perekonomian," ujar KH Choirul Sholeh usai membuka acara.

Menurutnya, ekspektasi masyarakat terhadap pesantren kini semakin tinggi. Selain dituntut unggul dalam ilmu agama, pesantren juga diharapkan mampu beradaptasi menghadapi tantangan ekonomi modern.

Oleh karena itu, transformasi internal pesantren menjadi kebutuhan mendesak. Pesantren perlu memperkuat tata kelola kelembagaan sekaligus membangun fondasi ekonomi yang kuat agar fungsi pendidikan dapat berjalan berkelanjutan.

KH Choirul menegaskan bahwa modernisasi pengelolaan ekonomi pesantren merupakan sebuah keharusan. Menurutnya, pesantren harus memperluas ruang pengabdiannya tanpa meninggalkan identitas sebagai lembaga pendidikan Islam.

Ia menjelaskan, pesantren tidak cukup hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga harus berkembang menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Transformasi tersebut bertumpu pada dua pilar utama. Pertama, mengikuti perkembangan zaman dengan mengadopsi sistem tata kelola dan ekosistem bisnis modern agar mampu bersaing dalam ekonomi kontemporer.

Kedua, membangun kemandirian ekonomi yang hakiki. Dengan fondasi ekonomi yang kuat, proses tafaqquh fiddin atau pendalaman ilmu agama dapat berjalan lebih optimal tanpa bergantung pada pihak lain.

"Sekarang saatnya pesantren mengembangkan diri serta kemandirian perekonomian dalam mengikuti perkembangan zaman," kata KH Choirul.

Melalui penyelenggaraan Multaq? Ru’as?’ al-Ma‘?hid II, MUI berharap lahir rekomendasi strategis yang akan dibawa dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII. Rekomendasi tersebut diharapkan menjadi roadmap pengembangan ekonomi pesantren sekaligus mendorong lahirnya ribuan santri-preneur dan pesantren yang berdaya saing secara ekonomi di masa mendatang.

Terkini