Program Seragam Gratis Kaltim Belum Terealisasi, Siswa SMK Menunggu

Senin, 20 Juli 2026 | 19:30:31 WIB
Program Seragam Gratis Belum Cair, Siswa SMK di Samarinda Pakai Baju SMP [FOTO: NET].

JAKARTA - Realisasi pembagian seragam sekolah cuma-cuma dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk tahun ajaran 2026/2027 belum juga terwujud. Imbasnya, sejumlah siswa baru di SMKN 1 Samarinda terpaksa mengikuti proses belajar dengan memakai seragam SMP, seragam bekas kakaknya, atau pakaian batik sekolah terdahulu sembari menanti bantuan tersebut disalurkan.

Program ini menyasar seluruh siswa baru jenjang SMA/MA, SMK, dan SLB se-Kalimantan Timur. Namun, hingga Senin (20/7/2026), seragam tersebut belum dibagikan.

Sekolah menerima informasi bahwa pembagian akan berlangsung pada Agustus 2026. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMKN 1 Samarinda, Hendro Kuncoro, mengatakan pihak sekolah telah menginstruksikan seluruh siswa agar menggunakan pakaian yang dimiliki selama masih layak pakai.

Menurutnya, sekolah tidak mewajibkan siswa membeli seragam baru sebelum bantuan pemerintah provinsi tiba.

"Pembagian seragam gratis memang belum terlaksana. Informasinya nanti sekitar Agustus. Selama menunggu bantuan itu, anak-anak tetap menggunakan baju yang mereka punya, termasuk seragam SMP yang masih berwarna biru," ujar Hendro, Senin.

Ia menegaskan, kebijakan tersebut diambil supaya tidak membebani orang tua siswa dengan biaya tambahan di awal tahun ajaran.

"Kalaupun ada beberapa anak yang sudah membeli seragam dari luar, itu merupakan pilihan masing-masing karena sekolah memang tidak menyediakan. Kami menunggu bantuan dari pemerintah provinsi," katanya.

Hendro menyampaikan, SMKN 1 Samarinda telah mengusulkan seluruh peserta didik baru sebagai penerima bantuan.

"Jumlah yang kami usulkan sekitar 426 siswa kelas X. Itu sesuai data yang masuk melalui aplikasi dan merupakan siswa yang mengikuti MPLS," ucapnya.

Selain memperbolehkan penggunaan seragam SMP, sekolah turut memanfaatkan seragam bekas dari alumni untuk membantu siswa yang memerlukan.

"Ada yang memakai baju kakaknya dulu. Ada juga alumni yang menyerahkan seragamnya kepada wali kelas. Daripada menumpuk, kami salurkan kepada adik-adik kelas X yang membutuhkan," kata Hendro.

Ia menambahkan bahwa sekolah tidak mempermasalahkan perbedaan pakaian yang dikenakan siswa selama kegiatan belajar berlangsung.

"Kami tidak mewajibkan anak harus memakai baju baru. Pokoknya pakai dulu apa adanya sambil menunggu bantuan dari provinsi. Jadi ada yang masih memakai seragam abu-abu, ada juga yang memakai batik. Yang penting mereka tetap mengikuti pembelajaran," ujarnya.

Siswa baru jurusan Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB), Alif Ziqri (15), mengaku masih mengenakan seragam batik karena belum memiliki seragam baru.

"Karena enggak ada baju lain juga. Seragam sekolah juga belum dibeli karena ukurannya belum ready, jadi pakai ini dulu," kata Alif.

Ia mengaku baru mengetahui informasi penundaan tersebut setelah memasuki masa sekolah.

"Jujur infonya baru muncul sekarang. Jadi saya sempat bingung mau pakai apa. Akhirnya pakai baju batik ini dulu," ujarnya.

Meski begitu, Alif menyebut kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk belajar.

"Saya tetap semangat belajar. Rencananya hari ini mau beli seragam putih abu-abu supaya besok bisa dipakai," ucapnya.

Hal serupa disampaikan Ahmad (15), siswa baru lainnya yang masih mengenakan seragam batik SMP. Ia berharap program seragam gratis segera direalisasikan agar bisa digunakan saat belajar.

"Harapannya cepat dapat bajunya, biar bisa dipakai, karena sekarang saya masih pakai baju SMP yang saya gunakan dulu," kata Ahmad.

Terkini