Pengamat: Defisit APBN Semester I Belum Cukup Menopang Stabilitas Rupiah

Minggu, 12 Juli 2026 | 13:55:31 WIB
Defisit APBN Masih Terkendali, Pengamat: Belum Cukup Perkuat Rupiah [FOTO: NET].

JAKARTA - Pengamat dari Departemen Ekonomi Universitas Andalas Padang, Syafruddin Karimi, berpendapat bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 0,76 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada semester I 2026 menjadi indikator bahwa kondisi fiskal Indonesia saat ini masih dalam kendali. Walau begitu, kondisi ini dianggap belum memadai untuk menjadi penopang utama stabilitas nilai tukar rupiah.

"Defisit 0,76 persen PDB memang menunjukkan kondisi fiskal masih terkendali, tetapi stabilitas rupiah tidak cukup ditopang oleh angka defisit semester pertama saja," kata Syafruddin, Minggu (12/7/2026).

Menurut Syafruddin, penguatan nilai tukar rupiah tidak semata-mata bertumpu pada rendahnya defisit APBN. Stabilitas kurs juga dipengaruhi oleh perpaduan berbagai aspek, mulai dari kedisiplinan fiskal, kredibilitas pembiayaan, kecukupan cadangan devisa, ketegasan kebijakan moneter, hingga kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah.

Ia menjelaskan bahwa APBN dapat berfungsi sebagai penyangga stabilitas rupiah jika pemerintah mampu menjaga pelebaran defisit. Lebih lanjut, pemerintah diharapkan dapat menekan ketidakpastian terkait subsidi serta mengelola penerbitan surat utang negara (SBN) agar tidak memicu kenaikan imbal hasil (yield).

 Syafruddin juga menekankan pentingnya pemerintah memberikan sinyal yang meyakinkan kepada pasar bahwa tambahan belanja negara hanya akan dialokasikan untuk program-program produktif yang mampu memacu pertumbuhan ekonomi.

Ia memperingatkan bahwa defisit yang terlihat rendah di semester pertama bisa kehilangan maknanya apabila proyeksi APBN hingga akhir tahun justru mendekati batas 3 persen PDB, akibat belanja negara yang melampaui pagu di saat penerimaan negara melemah.

Meski posisi fiskal Indonesia saat ini dinilai cukup kuat untuk menyangga stabilitas rupiah, kekuatan tersebut hanya akan bertahan jika pemerintah mampu menjaga kredibilitas pengelolaan APBN hingga tutup tahun, bukan sekadar menunjukkan kinerja baik di paruh pertama.

"Sebaliknya, defisit yang tampak rendah pada semester pertama dapat kehilangan makna jika outlook akhir tahun mendekati 3 persen PDB akibat belanja melampaui pagu dan penerimaan melemah," tuturnya.

Terkini