JAKARTA — Harga emas dunia di pasar spot kembali menunjukkan tren positif dengan mencatatkan kenaikan selama tiga hari berturut-turut.
Pada penutupan perdagangan Senin (15/6/2026), harga emas melesat 2,08% ke level US$4.309,7 per troy ons, dengan total akumulasi kenaikan mencapai hampir 6% dalam tiga hari terakhir.
Sentimen utama yang mendorong penguatan ini adalah harapan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang direncanakan akan ditandatangani pada KTT G7.
Kabar akan dibukanya kembali Selat Hormuz memicu penurunan tajam harga minyak dunia, yang secara tidak langsung memberikan sinyal positif bagi stabilitas inflasi global.
Kondisi ini memberikan ruang bagi bank sentral dunia untuk lebih tenang dalam kebijakan suku bunga, yang secara historis menguntungkan emas sebagai aset non-yielding.
Nicky Shiels, Head of Research and Metal Strategy di MKS PAMP SA, menilai bahwa harga emas saat ini masih tergolong underpriced.
"Jika damai terus terjaga, maka aksi jual terhadap emas akan berkurang dan berbalik menjadi aksi borong. Emas akan menjadi aset safe haven dan alternatif investasi di luar dolar AS," ungkap Shiels.
Analisis Teknikal:
Meski tren kenaikan terlihat kuat, investor tetap perlu waspada. Berdasarkan indikator Stochastic RSI 14 hari yang sudah menyentuh level 99, emas saat ini berada dalam posisi jenuh beli (overbought), yang berpotensi memicu koreksi harga dalam jangka pendek.
Titik Pivot: US$4.303 per troy ons.
Support: Jika menembus ke bawah pivot, emas berisiko menguji level support di US$4.271 hingga US$4.208.
Resisten: Jika momentum beli berlanjut, target resisten terdekat berada di US$4.330, dengan potensi penguatan lebih lanjut ke kisaran US$4.361–US$4.421 per troy ons.