JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyampaikan rencana pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. Hal ini dilakukan untuk mencegah terulangnya tumpukan sampah yang mengganggu lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Zulhas menegaskan, Jakarta menghasilkan hampir 8.000 ton sampah setiap hari sehingga tumpukan di TPST Bantargebang sudah setinggi gedung 17 lantai. PSEL nantinya mampu mengolah 3.000 ton sampah, dengan 2.000 ton sampah baru dan 1.000 ton sampah lama.
Lokasi PSEL Lainnya di Jakarta dan Tahap Kedua Program
Selain Bantargebang, dua lokasi lain akan dibangun PSEL, salah satunya di Sunter dekat Jakarta International Stadium (JIS). Program PSEL tahap kedua ini direncanakan ada di 14 lokasi, termasuk Lampung, Medan, Semarang, Surabaya, Tangerang, Kota Tangerang, dan Serang.
Zulhas berharap ke-14 PSEL tersebut rampung pada pertengahan hingga akhir 2028. Dengan adanya program ini, pemerintah menargetkan pengelolaan sampah lebih modern dan energi listrik dari sampah bisa dimanfaatkan optimal.
Insiden Longsoran Sampah di Bantargebang
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menjelaskan longsoran sampah di TPST Bantargebang Desa Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, disebabkan curah hujan ekstrem. Kejadian ini terjadi pada zona 4A pukul 14.30 WIB saat air masuk ke gunungan sampah hingga membuat tumpukan menjadi licin dan longsor.
Longsoran sampah menutup jalan operasional dan Sungai Ciketing sepanjang 40 meter. Pramono menegaskan pihaknya segera menormalisasi kondisi agar aktivitas pengelolaan sampah tidak terganggu.
Manfaat PSEL Bagi Jakarta dan Sekitarnya
PSEL tidak hanya mengurangi volume sampah, tapi juga menghasilkan energi listrik yang dapat dimanfaatkan warga. Dengan teknologi ini, pemerintah menekankan pentingnya percepatan pembangunan agar tidak ada lagi tumpukan sampah mengganggu kesehatan dan lingkungan.
PSEL di Bantargebang diproyeksikan mengolah sampah lama yang menumpuk sekaligus menampung sampah baru setiap hari. Hal ini menjadi langkah strategis pemerintah menghadapi pertumbuhan sampah kota yang terus meningkat.
Strategi Pemerintah Mengatasi Sampah Secara Terpadu
Program PSEL menjadi bagian dari rencana pemerintah untuk membangun pengolahan sampah modern di 14 lokasi secara nasional. Dengan pendekatan waste to energy, sampah diubah menjadi energi listrik yang ramah lingkungan.
Zulhas menegaskan pemerintah ingin mencegah kejadian tumpukan sampah yang memicu longsor. Pembangunan PSEL juga menjadi solusi strategis agar pengelolaan sampah lebih efisien dan berkelanjutan.
Kolaborasi Pemerintah dan Gubernur DKI
Setelah meninjau lokasi Bantargebang, Pramono Anung Wibowo meminta penanganan cepat untuk menormalkan kondisi. Langkah ini menjadi bagian dari kolaborasi pemerintah pusat dan daerah dalam mengelola masalah sampah Jakarta.
Insiden longsoran menunjukkan pentingnya pengelolaan sampah profesional dan teknologi modern. PSEL diharapkan mampu mencegah risiko banjir, longsor, dan pencemaran lingkungan di masa mendatang.
Rencana Jangka Panjang PSEL di Indonesia
Program PSEL tahap kedua ditargetkan rampung di 14 lokasi pada 2028. Setiap lokasi dioptimalkan agar mampu mengolah sampah kota secara signifikan dan menghasilkan energi bersih.
Dengan demikian, pengolahan sampah tidak lagi sekadar menumpuk, tapi menjadi sumber energi terbarukan. Pemerintah menekankan percepatan pembangunan agar dampak lingkungan bisa diminimalisir secepat mungkin.
Pembangunan PSEL di Bantargebang dan lokasi lain di Jakarta menjadi langkah strategis mengatasi tumpukan sampah. Program ini sekaligus menghasilkan energi listrik, meningkatkan kesehatan masyarakat, dan mencegah kejadian longsor akibat sampah.