Strategi Danantara Memposisikan PT PAL Sebagai Jangkar Utama Pengembangan Industri Perkapalan Nasional Indonesia

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:31:58 WIB
Strategi Danantara Memposisikan PT PAL Sebagai Jangkar Utama Pengembangan Industri Perkapalan Nasional Indonesia

JAKARTA - Industri perkapalan Indonesia kini berada di titik transformasi penting. Danantara Indonesia menegaskan peran strategis PT PAL Indonesia sebagai pusat penggerak untuk memenuhi kebutuhan kapal nasional.

PT PAL Sebagai Titik Pusat Ekosistem Galangan Kapal

CTO Danantara Sigit Puji Santosa menekankan bahwa penugasan PT PAL harus melibatkan seluruh pelaku industri galangan kapal di berbagai daerah. “Tentunya PT PAL ini tidak bisa sendiri. PT PAL harus dibantu oleh ekosistem teman-teman yang ada di Indonesia ini, apakah yang di Batam, Riau, Sumatra, di Jawa ataupun di Lombok dan lain-lain,” katanya dalam agenda Diskusi Strategis Industri Maritim, Kamis, 5 Februari 2026.

Sigit menekankan pentingnya penguatan ekosistem industri galangan kapal nasional. PT PAL diharapkan bekerja sebagai jangkar yang berkolaborasi, bukan bergerak sendiri, sehingga kapasitas nasional bisa dimaksimalkan.

Integrasi Produsen dan OEM Lokal dalam Rantai Pasok

Selain itu, Sigit menyoroti perlunya integrasi produsen utama (major manufacturers) dan original equipment manufacturer (OEM) dalam negeri. Hal ini dianggap strategis untuk memastikan ketersediaan kapal sipil dan pertahanan dalam negeri.

Menurut pengamatannya, jumlah galangan kapal di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan yang selama ini terlibat aktif dalam proyek besar. “Tadi saya lihat ada 22 perkapalan di Indonesia, mungkin kita punya 200 di Indonesia ini. Ini mungkin kalau kita bisa pertahankan lagi, kita akan mapping siapa mengerjakan apa,” tuturnya.

Pemetaan kemampuan galangan kapal dianggap mendesak. Beban tugas PT PAL ke depan semakin kompleks karena harus memproduksi kapal sipil sekaligus memegang peran penting dalam pembangunan kapal pertahanan.

Pendekatan Orkestrasi untuk Optimalisasi Kapasitas Nasional

“Tugas PT PAL juga cukup berat, tidak hanya di civilian ships, tapi juga untuk defense ships. Jadi mungkin nanti sebagai orkestratornya dan akan bekerja bersama-sama teman-teman sebagai ekosistem, apakah BUMN atau BUMS,” ujar Sigit.

Pendekatan orkestrasi ini bertujuan menciptakan pembagian peran jelas di antara pelaku industri. Dengan demikian, kapasitas nasional dapat dimaksimalkan, dan ketergantungan pada kapal impor dapat ditekan.

Kebijakan Wajib Beli Produk PT PAL oleh BUMN Pelayaran

Sebelumnya, COO Danantara Dony Oskaria menyampaikan bahwa proyek-proyek maritim BUMN diwajibkan membeli kapal dari PT PAL. Hal ini dilakukan setelah Danantara melakukan merger perusahaan-perusahaan BUMN di industri perkapalan.

“Tetapi dampaknya adalah kita akan mewajibkan seluruh perusahaan-perusahaan yang membutuhkan manufaktur kapal yang berada dalam lingkup Danantara itu diwajibkan dilakukan di PT PAL,” kata Dony dalam RDP Komisi VI DPR RI, Rabu, 4 Februari 2026.

Tujuan kebijakan ini jelas, yaitu meningkatkan daya saing industri perkapalan nasional. PT Pertamina International Shipping (PIS), PT Pelni, dan PT ASDP diwajibkan membangun kapal melalui PT PAL untuk mendukung pertumbuhan industri domestik.

Dampak terhadap Lapangan Kerja dan Pengurangan Impor

Dony menjelaskan bahwa industri perkapalan yang terfokus pada PT PAL akan berdampak positif pada lapangan kerja. Selain itu, kebijakan ini dapat mengurangi impor kapal dan komponen terkait, sehingga kemandirian industri maritim semakin kuat.

Dengan menjadikan PT PAL sebagai anchor, Danantara menegaskan bahwa penguatan industri galangan kapal tidak hanya soal produksi kapal. Langkah ini juga membangun kolaborasi, integrasi, dan efisiensi rantai pasok nasional.

Danantara berharap bahwa seluruh pelaku industri galangan kapal akan lebih aktif dan produktif. Setiap galangan kapal akan memiliki peran jelas sesuai kemampuan masing-masing, sehingga semua pihak diuntungkan.

Pendekatan orkestrasi yang diterapkan oleh PT PAL memungkinkan pemetaan kapasitas nasional lebih rinci. Ini juga membuka peluang bagi galangan kapal skala menengah untuk ikut terlibat dalam proyek besar nasional.

Strategi ini sekaligus menegaskan bahwa kemandirian industri maritim Indonesia menjadi fokus utama. Dengan penguatan ekosistem dan koordinasi, PT PAL mampu menjawab tuntutan produksi kapal sipil dan pertahanan.

Danantara menganggap kolaborasi dan integrasi ekosistem sebagai kunci keberhasilan. Ke depan, semua proyek maritim dari BUMN akan diarahkan melalui PT PAL sebagai pusat manufaktur.

Peta industri galangan kapal Indonesia akan semakin jelas. Pendekatan ini memungkinkan pengawasan lebih ketat dan distribusi proyek yang merata di seluruh daerah.

Dengan kebijakan ini, PT PAL diposisikan sebagai penggerak utama industri perkapalan nasional. Langkah tersebut juga memperkuat posisi Indonesia dalam kemandirian maritim global.

Kolaborasi antar-BUMN dan galangan kapal swasta menjadi pondasi. Strategi ini memastikan semua pihak berperan optimal tanpa harus bersaing tidak sehat.

Penugasan PT PAL sebagai jangkar industri perkapalan menandai era baru bagi sektor maritim. Industri kapal nasional kini memiliki arah yang jelas dan berkelanjutan untuk masa depan.

Danantara berharap kebijakan ini tidak hanya memperkuat industri domestik, tetapi juga meningkatkan kemampuan inovasi lokal. Dengan demikian, PT PAL akan menjadi simbol kemandirian maritim Indonesia yang tangguh.

Terkini